SLO NUSANTARA
– Moms, setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda, bahkan saudara kembar sekalipun.
Gaya hidup ini diciptakan melalui campuran antara hal-hal yang dimiliki sejak dilahirkan dan berbagai pengalaman dalam kehidupan.
Pola ini mulai berkembang sejak usia tiga hingga lima tahun dan akan tetap bertahan seumur hidup. Meski begitu, cara seseorang mengekspresikan gaya hidupnya bisa berubah sesuai keadaan.
Saat masih kecil, pengalaman emosi memainkan peranan penting dalam mengatur cara seseorang menjalani hidupnya.
Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih sayang cenderung memiliki pola pikir yang optimis dan percaya diri.
Sebaliknya, anak yang merasa diabaikan atau kurang dicintai sering kali mengembangkan pola pikir defensif untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Mereka mungkin menganggap bahwa kasih sayang bukanlah hal yang penting, sebagai bentuk perlindungan diri dari luka masa lalu.
Setelah gaya hidup terbentuk, mengubahnya menjadi sangat sulit.
Sebagai contoh, seorang anak yang mengalami perasaan tak tercinta bisa jadi percaya bahwa cinta tidaklah berarti bagi mereka. Hal ini bertujuan sebagai benteng perlindungan agar terhindar dari kesedihan di waktu lampau.
Sebagai gantinya dari mencoba mengoreksi pengalaman di masa lalu ataupun mendambakan kehidupan yang akan datang menjadi lebih baik, individu tersebut lebih condong untuk menjaga keyakinannya tetap utuh.
Ini menunjukkan bahwa menjaga keberlanjutan dari suatu pola lebih sederhana dibandingkan dengan berusaha untuk merombaknya.
Meskipun demikian, perubahan pola hidup tetap dapat dilakukan walaupun biasanya cukup rumit.
Berbagai rintangan ada di sana, termasuk perasaan, tenaga yang diperlukan, serta kebiasaan yang telah mengakar kuat.
Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa puas dengan cara hidup yang dijalani saat ini walaupun hal itu pada dasarnya menghambat pertumbuhan pribadinya.
Sehingga, mereka cenderung untuk menjaga keadaan seperti adanya.
Tetapi, bagaimana seseorang meraih tujuan di kehidupan mereka dapat beralih.
Sebagai contoh, orang yang dahulunya menilai kesuksesan berdasarkan harta material barang kemungkinan akan mulai melihat sukses sebagai kedamaian jiwa seiring bertambahnya umurnya.
Anak-anak yang dibesarkan dalam rumah tangga yang memperkenalkan prinsip-prinsip belas kasihan dan pemahaman umumnya memiliki perspektif berbeda saat meramal keberhasilan mereka di kemudian hari.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun esensi dari gaya hidup tetap tak berubah, bagaimana kita menjalaninya dan memberi makna padanya dapat berkembang seiring dengan pengalaman kehidupan yang dialami.
Secara keseluruhan, cara seseorang menjalani hidup merupakan akibat dari daya dalam diri serta berbagai pengalaman unik selama masa kanak-kanak tiap orang.
Fase anak-anak merupakan periode krusial dalam mendirikan cara hidup, yang nantinya bertindak sebagai fondasi untuk kebiasaan perilaku selama seseorang masih hidup.
Walaupun susah untuk berubah, cara mengungkapkan gaya hidup dapat berkembang.