Guncangan gempa dengan kekuatan 7,7 skala Richter menggoyang Myanmar di hari Jumat sore (28/03). Menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat getaran terletak sejauh 16 kilometer arah barat laut kota Sagaing.
Pengaruh dari guncangan gempa bumi ini dirasakan sampai ke negeri sebelah seperti China dan Thailand.
Di Bangkok, misalnya, video yang beredar di media sosial menunjukkan air menyembur keluar dari kolam renang di atap gedung dan mengucur ke jalan-jalan di bawahnya.
Bui Thu, seorang jurnalis dari BBC yang bertempat di Bangkok, menceritakan pada BBC World Service bahwa dia tengah berada di dapur saat guncangan gempa bumi pertama dirasakan.
Ia berkata dengan nada gemetar, ‘Saya sungguh cemas, benar-benar ketakutan,’
Saya kurang paham tentang faktor penyebabnya karena sepertinya telah berlalu satu dasawarsa semenjak Bangkok terakhir kali merasakan guncangan gempa bumi yang begitu dahsyat seperti ini.
Dalam apartemenku, aku hanya menjumpai retakan pada tembok serta percikan air dari kolam renang dan para penghuni yang menggelegak.
Setelah terjadi guncangan kedua, dia lari ke jalan bersama banyak orang lain.
“Mereka cuma ingin mengetahui apa sebenarnya yang berlangsung,” ujarnya.
Bangunan-bangunan di Bangkok dibuat tanpa mempertimbangkan guncangan gempa bumi, oleh karena itu saya rasa hal ini yang menyebabkan kemungkinan adanya kerusakan parah.
Pihak berwenang di Thailand tengah menyelenggarakan rapat mendadak guna menanggapi insiden tersebut.
Guncangan gempa cenderung lebih banyak terjadi di Myanmar daripada di Thailand.
Dalam rentang antara 1930 hingga 1956, tercatat sebanyak enam kali guncangan gempa besar dengan kekuatan minimal 7,0 skala Richter di wilayah Sesar Sagaing, sebuah garis sesar yang melintasi pertengahan negeri ini, demikian dilaporkan oleh agensi berita.
AFP
yang mengutip USGS.
Artikel ini akan diupdate dengan teratur