logo SLO Nusantara


Beruntungnya pulang kampung untuk lebaran di area seputaran Solo adalah adanya banyak pilihan makanan enak yang dapat dicoba ketika berada di Kota Terbesar di Jawa Tengah tersebut.




SLO NUSANTARA hadir di WhatsApp Channel, ikuti dan peroleh informasi terkini kami disini




SLO NUSANTARAOnline.com –

Surakarta atau Solo merupakan salah satu destinasi pulang kampung dari Jakarta yang cukup populer.

Di luar penggunaan sarana transportasi publik seperti bis, kereta api, dan pesawat, para pemudik pun memakai mobil pribadi mereka sendiri. Terutama dengan adanya jalan tol yang mengurangi waktu tempuh dari Jakarta menuju Solo.

Ada banyak manfaat mudik Lebaran di area seputaranSolo. Salah satunya yaitu karena Solo terkenal jadi surga untuk makanan yang bervariasi jenisnya.

Berikut adalah lima lokasi makanan yang harus Anda datangi ketika pulang kampung di area Sekitar Solo.

1. Selat Mbak Lies

Mbak Lies merupakan pendiri rumah makan yang menyajikan hidangan selat. Hidangan ini pada dasarnya adalah variasi lokal dari masakan Barat bernama salad, di mana rasa dan bumbunya telah dimodifikasi untuk mencocokkan palate nasional.

Hidangan selat sungguh pas menjadi awal perjalanan cita-cita di Solo. Tempat Selat Mbak Lies berada di jalur Yudhistira, Serengan, dan membuka mulai jam sembilan pagi hingga pukul enam belas sore. Nuansa dekorasi kuno yang unik menjadikan lokasi ini tambahan daya tarik untuk didatangi.

2. Tengkleng Mbak Diah

Yang terkenal di antara warga Solo adalah tenganleng ini. Pada tahun 1993, Bu Diah mulai merintis usaha dengan menjual makanan pinggir jalan, dan saat ini dia telah berhasil mendapatkan tanah serta membuka restoran sendiri. Hidangan unggulan mereka yaitu tengkleng daging kambing. Kebetulan di tempat ini tidak ada bau prengus dari kambing, ditambah cita rasa kuah yang segar. Pastinya akan bikin nagih.

3. Ayam Goreng H. Slamet “Autentik”

Memiliki lebih dari seratus gerai yang terdistribusi di seluruh wilayah Indonesia, seolah belum lengkap apabila tidak mengunjungi tempat makan asli Bebek Goreng H. Slamet “Original”. Lokasi tepatnya ada di Sedahromo Lor, Kartasura, Sukoharjo.

Jangan bayangkan kalau tempat makan pertama milik H. Slamet itu megah atau luas, ternyata restorannya terletak di dalam gang dan cukup sederhana. Meskipun demikian, restoran tersebut selalu ramai oleh para pengunjung. Di sini pun Anda bisa menemui langsung H. Slamet, sang pencetus ayam goreng dengan saus cabai yang lezat.

4. Serabi Notosuman

Setelah makan siang yang mengenyangkan, yuk cobain serabi Notosuman. Rasanya lembut dengan sentuhan manis yang tidak terlalu kuat, serta begitu mencair di lidah, terutama kalau dinikmati dalam keadaan hangat. Berlokasi di Jalan Mohammad Yamin No. 28 Solo, Serabi Notosuman telah diproduksi selama lebih dari 90 tahun.

5. Susu Shi Jack

Bagi mencari hidangan pada malam hari, Anda bisa mengunjungi Susu Shi Jack. Kemah Shi Jack terletak di Jalanan Kapten Mulyadi dan juga mempunyai cabang lainnya di jalur Veteran. Shi Jack yang telah menjalankan bisnis sejak 1987 ini menawarkan spesialisasi dengan menyajikan susu asli dari sapi yang berasal dari daerah Boyolali.

Bermacam-macam jenis susu dengan nama-nama menarik tersedia di Shi Jack. Tokonya biasanya membuka mulai jam 6 sore hingga pukul 1 dini hari.


Wedangan yang begitu istimewa

Apabila Yogyakarta terkenal dengan angkringannya, maka Solo dikenali melalui wedangannya atau disebut juga hik. Kedai ini merupakan ciri khas dari Kota Surakarta atau biasa dipanggilSolo, Jawa Tengah. Menggunakan perlindungan berupa tenda serta hidangan sederhana, kedai-kedai ini senantiasa menyediakan pilihan untuk menemani waktumu saat malam tiba di Solo.

Harga makanan yang terjangkau ditambah dengan atmosfer Solo yang tenang menimbulkan kerinduan bagi penggemar setia dari tempat ini. Wedangan khas Solo memiliki berbagai keunikan yang hanya dikenali oleh sang pemilik ataupun pembeli loyalnya saja.

Sutarno, pedagang wedangan di Jl. Brigjen Slamet Riyadi sejak tahun 2000, membagikan beberapa rahasia tentang wedangan Solo. Berikut apa yang dia ungkapkan:

1. Minuman enak yang terdiri dari gabungan tiga merk berbeda

Menurut Sutarno, kedai wedang di Solo kebanyakan menyuguhkan rasa teh yang unik masing-masing, namun semuanya tetap enak. Seperti aturan tidak tertulis, kata Sutarno, pedagang wedang harus pandai mencampurkan bahan-bahannya.

“Umumnya wedangan menggunakan tiga jenis teh dan mencampurkan mereka sendiri. Saya dulunya belajar terlebih dahulu cara mencampur teh sebelum menjualnya. Teh tersebut juga baru diseduhi ketika ada pemesanan untuk memastikan kesegaran,” ungkap Sutarno.

Oleh sebab itu, ia menjelaskan bahwa kebanyakan teh yang ada diwedangan umumnya memiliki rasa yang berbeda dibandingkan Teh yang disajikan di warung makan dikarenakan cara meraciknya.

2. Harus menggunakan arang

Warung tradisional memiliki keunikan dalam menyajikan masakan yang lezat. Salah satu kunci utamanya adalah penggunaan arang kayu. Selain berfungsi sebagai pemanas air, arang juga dipergunakan untuk memanggang jahe serta memberi panas pada berbagai jenis makanan seperti sate. Menurut Sutarno, jika arang digantikan oleh gas elpiji, rasanya akan terdampak dengan signifikan.

3. Memilih jahe khusus

Pedagang wedangan umumnya jago dalam memilah jahe yang pedas guna menghangatkan badan pembeli pada malam hari yang sejuk. “Ambillah jahe berukuran kecil karena jahe ukuran besar justru kurang pedas,” ungkap Sutarno.

Dia menambahkan bahwa sejumlah individu menyelipkan lada hitam bersama jahe untuk meningkatkan rasa pedas. Agar dapat mendeteksinya, minuman berjahe murni akan memberikan sensasi panas merambati keseluruhan badan. Sementara itu, campuran lada biasa hanya terasa panas di area tenggorokan.

4. Bukan seluruh jenis makanan yang datang dari satu asal

Banyaknya pilihan lauk di wedangan bukan dibuat oleh satu orang. Biasanya Sutarno mengatakan ada penyedia lauk yang menitipkan masakannya di tiap wedangan.

“Saya bisa membuatnya jika jumlahnya sedikit, tapi kali ini terlalu banyak. Misalkan saja, ada orang yang menitipkan burung merpati dan juga seseorang lain yang menitipkan sate,” papar Sutarno.

5. Pilih nasi bungkus

Warung makan di Solo kebanyakan menyediakan dua jenis nasi, yaitu nasi dalam bentuk bungkusan dan nasi yang tersaji di wadah besar. Menurut Sutarno, kedua jenis nasi ini sebenarnya terbuat dari beras yang sama. Dia menjelaskan, “Yang membuat nasi bungkusan unik adalah rasa yang lebih lezat. Saya sudah mencobanya sendiri untuk membandingkan keduanya. Anehnya, meski menggunakan beras yang sama, rasanya berbeda. Nasi yang diambil dengan scoop biasanya lebih digemari oleh para pekerja fisik keras, karena ukuran porsinya lebih banyak.” katanya.

Berikut itu adalah manfaat pulang kampung saat Lebaran di Solo serta daerah sekelilingnya. Tak hanya karena suasana kotanya yang menyebabkan rindu, Solo juga dikenal sebagai surga untuk masakan Nusantara.