SEBELUM
Aktif sebagai juru bicara untuk Kementerian Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak, seorang intelektual muda dan mantan ketua Pemudi Muhammadiyah, pernah menyampaikan nasihat dari tradisi Islam yang menurut pandangan pribadi saya sungguh luar biasa.
Fastabiqul Khoirot
.
Inti makna
Fastabiqul Khoirot
adalah bersaing dalam berbuat baik.
Kondisi persaingan yang sering kali dipenuhi suasana negatif dan bisa jadi merusak, jika diartikan dengan kata-kata tersebut.
Fastabiqul Khoirot
langsung berubah menjadi positif dan konstruktif demi menghindari kemelut persaingan dalam berbuat buruk.
Sebagai contoh, situasi yang berkembangkan antara Rusia dan Ukraina atau Israel dengan Palestina, serta tindakan pemerintah yang menggusur masyarakat berpenghasilan rendah dengan cara yang sangat bertentangan dengan undang-undang dan hak asasi manusia. Hal ini juga menyalahi tujuan Agenda Pembangunan Berkelanjutan yang sudah disetujui oleh seluruh negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk Indonesia sebagaimana menjadi panduan untuk membangun Bumi diabad 21 ini tanpa harus merusak lingkungan ataupun membawa kesusahan kepada umat manusia.
Setelah lima tahun sejak ditunjuk oleh Presiden Prabowo untuk menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Pelaksana Haji, Dahnil mengingatkanku akan pesona dari makna yang tersimpan dalam prinsip Islam “khoirunnas anfa’uhum linnas”, yaitu peribahasa Arab yang merujuk pada konsep bahwa “manusia terbaik adalah mereka yang memberikan manfaat maksimal kepada sesama manusia.”
Kebijaksanaan “khoirunnas anfa’uhum linnas” tampak seperti hembusan angin sejuk dan halus menghinggapi pusaran ribut kacau akibat kesombongan dan sikap serba diri dari setiap individu dalam perjuangan untuk lebih banyak memberikan manfaat kepada dirinya sendiri saja.
Peribahasa cantik itu dikutip dari hadis yang diceritakan oleh Ahmad Thabrani dan Ath Thabari.
Hadis ini mengajarkan pentingnya berlaku baik terhadap sesama. Karena merupakan makhluk Tuhan Yang Maha Esa, manusia diwajibkan untuk selalu menyebarkannya dengan perbuatan baik serta bersaling membantu satu sama lain. Setiap kebaikan yang dilaksanakan akan dicatat oleh-Nya sebagai pahala ibadah.
Saya seorang Nasrani, namun tentunya hal itu tidak berarti saya tak memiliki hak untuk berusaha memahami dengan hormat dan menghargai kebijaksanaan-kebijaksanaan dari agama-agama lain saat saya menjalani perjalanan hidup yang penuh tantangan, dipenuhi bebannya oleh kesulitan, debu, kerumunan, berkeringat, tangis, dan darah.
Saya merasakan atmosfer keelokan yang mempesona jiwaku, sebab kedalaman kebijaksanaan Islam tersimpan di hati nurani saya.
,
misal
Jihad untuk memperbaiki diri sendiri, agama kamu adalah agamamu dan yang saya miliki adalah perebutan kebaikan.
serta
khoirunnas anfa’uhum linnas
hal-hal yang pantas saya jadikan acuan untuk usaha selama perjalanan hidup dalam mengejar esensi dari arti kehidupan.