logo SLO Nusantara


ISLAMABAD, SLO NUSANTARA

Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebabkan para pilot di Afghanistan yang pernah menolong AS melawan kelompok Taliban sekarang berada dalam ancaman terhadap keselamatan mereka.

Tauheed Khan, seorang pilot dari Angkatan Udara Afghanistan, membantu Amerika Serikat dalam pertempuran yang berlangsung selama dua dekade melawan Taliban.

Dia dan regunya berperan penting dalam menangani ancaman Taliban bersama Amerika Serikat.

Akan tetapi, kohesi tersebut berakhir di bulan Agustus 2021, saat pasukan luar mengundurkan diri dan Kabul akhirnya diserahkan kepada Taliban.

Khan sekarang sedang tinggal di Pakistan bersama keluarganya yang kecil, khawatir bahwa mereka akan diserang bila pulang ke Afghanistan.

Karena Afghanistan kini berada dalam genggaman kekuatan yang pernah dibantahnya.

Lebih buruk lagi, kebijakan anti-pengungsi yang diimplementasikan Trump setelah pemblokiran perbatasan Amerika Serikat, bersama dengan aturan keras Pakistan terhadap pengungsi, telah menyusut waktu bagi mereka untuk mencari jalur alternatif yang lebih aman.

Mencakup batasan waktu yang kian mendekati hingga akhir bulan ini.

Oleh karena kedudukan mereka yang menonjol di kalangan masyarakat lokal, banyak pilot khawatir terhadap ancaman pembalasan setelah Taliban merebut kendali pemerintahan.

Dikutip dari
CNN Internasional
, Sabtu (29/3/2025), Khan menyebut bahwa selama menjabat di Angkatan Udara, sekitar delapan sampai sepuluh kawannya meninggal akibat ledakan dan serangan berpautan dengan Taliban yang disengaja.

Khan datang ke Pakistan pada Maret 2022, menyusul kerusuhan yang meletus pasca penarikan Amerika Serikat.

Dia sampai di Pakistan dengan cara sah dan melalui perjalanan kaki, sesudah menerima nasihat dari seorang penerbang Amerika Serikat yang menjadi salah satu guru latihannya.

“Di Pakistan kita tidak punya pilihan lain, apa yang dapat kita lakukan? Berterima kasihlah pada Tuhan kita berhasil mencapainya,” katanya.

“Di tempat ini kami tidak mempunyai kehidupan. Kami dilanda rasa takut,” kata Khan.

Dia menyebutkan bahwa sudah mengikuti prosedur Program Penerimaan Pengungsi AS (USRAP). Setelah bersabar selama dua tahun, dia akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjalani wawancara di kedutaan Amerika Serikat bulan April kemarin, dengan harapan dapat menetap di negara tersebut.

Menurut Khan, sejak saat itu yang tersisa hanyalah “ketenangan”.

Selama dua bulan terakhir, langkah-langkah dari Gedung Putih menjadi lebih sulit untuk ditebak.

Selain itu, dengan kebijakan yang semakin menentang migrasi di bawah pemerintahan Presiden Trump, hal ini menciptakan keragu-raguan mengenai peluang bagi warga Afghanistan seperti Khan.

Tetapi, Taliban menyangkal adanya ancaman bagi mantan penerbang itu bila ia pulang ke sana.

“Kami tidak memiliki kendala terhadap mereka,” ungkap Juru Bicara Taliban Zabiullah Mujahid.

“Pilot-pilot yang berkeinginan untuk kembali ke Afghanistan amat dibutuhkan sebab mereka merupakan harta nasional dan tenaga kerja militer yang signifikan. Sebagian rekan satuannya telah bertugas demi negeri ini, serta ditanggapi dengan penuh hormat,” katanya.