SLONUS.CO.ID, WASHINGTON – Pimpinan Komando Strategis Amerika Serikat (AS), Jenderal Anthony Cotton, menyebutkan bahwa Iran sudah mempersingkat durasi untuk membuat bahan bakar nuklir uranium hingga bisa digunakan dalam senjata nuklir. Menurut pernyataan Cotton yang disampaikan saat sesi tanya jawab bersama Senat AS Kamis minggu lalu, periode tersebut kini berkurang menjadi kurang dari tujuh hari dari semula antara 10 sampai 15 hari.
Ynet
.
“Iran secara berkelanjutan mengerjakan program nuklirnya dengan menambah persediaan uranium serta mendirikan pusaran gas ekstra,” ujar Cotton melalui pernyataannya yang ditulis.
“Teheran sudah mempersingkat durasi produksi uranium tingkat bom hingga digunakan sebagai senjata nuklir,” ujar Cotton, menyebutkan demikian.
Cotton juga menyebutkan bahwa Iran memiliki cadangan rudal balistik terbanyak di wilayah Timur Tengah, dan beberapa dari rudal tersebut sudah dipakai ketika serangan ke arah Israel pada tanggal 1 Oktober 2024. Selain itu, Cotton mengungkapkan pula bahwa Iran sedang meningkatkan pembelian persenjataan modern bagi grup-grupnya.
proxy
mereka di Timur Tengah.
Sehari sebelum pernyataan Cotton,
komunitas intelijen di AS
Pada hari Selasa, 25 Maret 2025, disebutkan bahwa Iran saat ini bukanlah produsen dari senjata nuklir. Walaupun demikian, sesuai dengan catatan yang dibuat oleh Agensi Energi Atom Internasional (IAEA) pada masa lalu, pihak Teheran telah meningkatkan derajat pemurnian uranium mereka dengan cukup pesat.
” Kami tetap menilai bahwa Iran belum menjalankan program pembuatan senjata nuklir,” sebagaimana dijabarkan dalam laporan dari masyarakat intelijen Amerika Serikat.
Laporan sepanjang 21 halaman tentang intelijen Amerika Serikat yang telah dipublikasikan mencakup perspektif terpadu dari 18 badan intelijen dalam negeri, seperti CIA, Departemen Pertahanan atau Pentagon, serta NSA yang bertanggung jawab atas pemantauan sistem komunikasi. Laporan ini juga melibatkan NRO yang berurusan dengan operasi satelit mata-mata milik AS.
Rilisan laporan oleh komunitas intelijen Amerika Serikat terjadi pada waktu yang sama ketika pihak Iran memperlihatkan infrastuktur militernya yang berada di bawah tanah dan diyakini sebagai tempat perlindungan bagi fasilitas-fasilitas nuklir mereka agar aman dari serangan udara menurut beberapa analisis. Video klip tersebut dipublikasi oleh media-media negara Iran; dalam rekamannya dapat dilihat bahwa Mayor Jenderal Mohammad Hossein Bagheri, sang Panglima Angkatan Darat Iran, sedang menjelajahi lokasi penyangga rudal ini bersama dengan para pemimpin armada Laut Tengah Irani disebuah kawasan bernama ‘Kota Rudal’ atau secara harfiah bisa juga menjadi ‘City of Missiles’.
Baru-baru ini, IAEA telah memperingatkan dunia tentang semakin dekatnya Iran terhadap pembuatan bom nuklir pertamanya. Peringatan tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi saat melakukan wawancara dengan media Argentina, Infobae pada hari Sabtu, tanggal 15 Maret 2025.
“Iran berambisi besar dengan program senjata nuklirnya yang luas, melalui pemurnian uranium hingga mendekati konsentrasi yang diperlukan untuk membuat bom nuklir,” ujar Grossi seperti dikutip oleh Iran International.
Meskipun begitu, sesuai pendapat Grossi, kondisi nuklir Iran sekarang cukup stabil walaupun dia masih menekankan bahwa,(penguatan uranium) sudah sangat mendekati ambang batas, yang berarti memiliki potensi besar dalam pembuatan senjata nuklir seperti bom atom.
Grossi menunjukkan pula bahwa Iran tengah menghadapi kenaikan produksi uranium hingga tingkatan 60 persen. Menurut prediksinya, Iran berpotensi meningkatkan pemurnian uranium mereka sampai taraf senjata nuklir yaitu sekitar 90 persen dan dapat membuat enam buah bom nuklir dengan sangat cepat.
Berdasarkan laporan paling baru yang saya miliki, stok uranium U-235 di Iran telah meningkat sebesar 60% atau tambahan 275 kilogram, dengan kenaikan 182 kilogram selama tiga bulan belakangan. Iran adalah satu-satunya negeri non-nuklir yang melaksanakan pemurnian uranium sampai tingkatan seperti itu dan hal tersebut sungguh mengkhawatirkanku,” ungkap Grossi dalam suatu pernyataan yang dilaporkan.
Anadolu
.
Di tengah bulan ini, Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebutkan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat tidak akan membawa hasil penghapusan sanksi, malah sebalinya bisa membuat sanksi menjadi lebih ketat. Ucapan itu dikemukakan saat ia berbicara dalam acara tahunan bersama para pelajar di Teheran.
Dia menekankan bahwa masih ada orang di Iran yang tetap bertanya-tanya kenapa Iran tidak bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Untuk menjawab pertanyaan ini, Khamenei menyatakan tegas bahwa pembicaraan diplomatik tidak akan memberikan manfaat positif untuk negerinya.
“Saya ingin menyampaikan bahwa apabila tujuannya dalam negosiasi adalah untuk menghilangkan sanksi, berkonsultasi dengan pemerintah Amerika Serikat pada masa kini bukankah solusinya karena malah akan membuat sanksi menjadi lebih ketat,” katanya.
“Perundingan hanyalah akan mengeraskan beban. Berkonsultasi dengan pemerintah ini malah dapat meningkatkan tekanan,” tambahnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tanpa berkonsultasi mengundurkan diri dari kesepakatan kendali senjata nuklir (JCPOA) pada bulan Mei tahun 2018. Setelah keputusan tersebut, Iran dengan berangsur-angan memperbesar kadar pemurnian uraniumnya melebihi batas yang ditetapkan dalam perjanjian, yaitu dari tingkat 3,57 persen hingga mencapai 60 persen.
Iran telah melakukan perundingan tak langsung dengan pemerintah Joe Biden di bawah pengawasan Uni Eropa, namun diskusi panjang ini belum mencapai kesepakatan apa pun saat tensi semakin memburuk. Menurut pernyataan dari Khamenei, dia mengakui bahwa sanksi memiliki dampak buruk bagi Iran; meskipun demikian, ia menekankan bahwa masalah ekonomi dalam negerinya disebabkan oleh lebih banyak faktor daripada hanya adanya sanksi saja.
Dia pun merespons ancaman Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran. Dia menyebutkan bahwa Washington selalu berpendapat tidak akan mentoleransi keberadaan senjata nuklir di Iran. Meski demikian, Khamenei tegas mengungkapkan bahwa apabila Iran benar-benar berniat untuk melanjutkannya, AS tak akan dapat mencegahnya.
“Kenyataan bahwa kita tak punya senjata nuklir dan enggan mencarinya dikarenakan pilihan kita sendiri, dengan dalih tertentu,” jelasnya.
Khamenei juga menyatakan bahwa Iran tidak berniat untuk berperang. Tetapi, dia memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat dan sekutunya mengambil “tindakan yang salah,” Iran siap merespons dengan cara yang “kuat dan tegas.”
