logo SLO Nusantara

Lebaran 2025 tinggal sebentar. Mulai dari lima hari sebelum Lebaran, jumlah orang yang pulang kampung telah terlihat semakin bertambah, dengan puncaknya diprediksikan jatuh pada Jumat dan Sabtu, yaitu tanggal 28 sampai 29 Maret 2025. Tradisi ini merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia, dimana para pemudik akan berusaha kembali ke desanya masing-masing saat mendekati Hari Raya Idul Fitri guna merayakan pertemuan dengan keluarganya serta saudara-saudaranya.

Iklim di Indonesia untuk bulan Maret tetap condong ke arah hangat dan sebagian wilayah kadang-kadang menerima hujan lembut. Memelihara kesejahteraan saat melakukan perjalanan pulang serta ketika menyambut Idul Fitri amat diperlukan. Dengan fisik yang fit, Anda bisa sampai di tempat asal dalam kondisi terbaik dan menikmati hari raya Idul Fitri dengan penuh gembira.

Satu hal penting yang harus diwaspadai adalah kondisi kesehatan ginjal. Memahami penyebab-penyebab utama kerusakan pada ginjal merupakan tahap awal untuk menghindari kegagalan ginjal. Organ ginjal serta sejumlah organ tubuh lain seperti jantung dan pembuluh darah memiliki hubungan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Ginjal yang sehat sangat dipengaruhi oleh diet, hidrasi tubuh, tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Beberapa penyakit berdampak negatif kepada kesehatan ginjal, antara lain diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kelainan ginjal bawaan.

Mengenal Ginjal Sehat vs Ginjal Rusak

Gagal ginjal berarti ginjal sudah tidak dapat lagi menjalankan perannya untuk membersihkan limbah dari darah. Konsekuensinya adalah adanya akumulasi limbah dalam tubuh yang bisa membahayakan nyawa. Ketika organ pemfilter darah ini rusak dan gangguan tersebut bertahan lebih dari tiga bulan, kondisi itu dikenal sebagai gagal ginjal Kronis.

Terdapat lima tingkatan atau derajat penyakit ginjal yang dinilaikan dari kapasitasnya dalam menyaring darah melalui angka perkiraan Laju Penyaringan Ginjal Glomeruli (eGFR). Glomerulus merujuk pada jaring-jaring pembuluh darah halus dan kecil yang bekerja sebagai saringan alami di organ ginjal.

Inilah glomerulus yang bertugas memisahkan zat-zat kecil seperti air, garam, dan limbah buangan dari darah dari zat-zat besar seperti protein. Albumin dan globulin merupakan dua tipe protein berukuran besar yang tidak akan terbuang dalam urine jika fungsi glomerulus ginjal masih optimal.

Ginjal yang sehat memiliki kapabilitas mengambil kembali (reabsorbsi) beberapa protein dengan molekul kecil yang berhasil melewati penyaringannya. Proses ini sangat berperan dalam fungsi ginjal sebelum urine dibentuk. Fungsi reabsorpsi ini diperlukan untuk menjaga stabilitasi kadar cairan dan ion tubuh kita; sehingga substansi-substansi makanan vital seperti protein serta glukosa tak seluruhnya hilang lewat pembuangan air seninya.

Derajat gangguan ginjal

Gangguan ginjal tingkat 1 atau ringan ditandai dengan nilai eGFR di atas 90. Di tahap ini, ginjal masih bisa berfungsi secara optimal tetapi telah terdeteksi adanya protein dalam urine atau dokter menemui bukti kerusakan struktural selama pemeriksaan pencitraan ginjal. Protein merupakan zat berukuran besar dan biasanya tak boleh lolos dari filter alami ginjal. Kemunculan protein dalam urine disebut juga sebagai proteinuria atau albuminuria dan menjadi indikasi awal ada masalah pada sistem penyaringan ginjal.

Gangguan ginjal tingkat 2 mengindikasikan adanya kerusakan ginjal yang masih ringan di mana nilai eGFR berada pada rentang 60-89. Penderita belum akan merasakan gejala spesifik hingga mencapai tahap kegagalan ginjal level dua tersebut. Untuk mendeteksinya lebih awal, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui pengambilan contoh urine merupakan metode yang tepat.

Gangguan ginjal tingkat 3 ditandai dengan nilai eGFR antara 45-59 untuk subkategori 3a, serta 30-44 untuk subkategori 3b. Di fase ketiga ini, pasien mulai mengalami sejumlah gejala disebabkan oleh penumpukan limbah atau sisa metabolisme dalam tubuh mereka. Beberapa dari tanda-tanda tersebut meliputi rasa mual, kesulitan tidur, turunnya selera makan, sensasi tak nyaman di perut, kelelahan cepat, masalah fokus pikiran, kram otot, gatal-gatal persisten di kulit, serta sesak napas. Selain itu, pada stadium ini juga ditemui adanya peningkatan tekanan darah yang sulit dikontrol, kemungkinan terjadinya anemia, dan rasa sakit pada bagian tulang.

Pada tingkat keempat, ginjal telah menderita kerusakan parah dengan nilai eGFR yang sangat menurun, yakni berkisar antara 15 hingga 29. Di fase ini, pembengkakan pada kaki dan tangan menjadi lebih nampak, rasa nyeri di area punggung meningkat, serta frekuensi buang air kecil berkurang. Selain itu, pasien pun perlu bersiap secara emosional untuk kondisi dimana fungsi ginjal dapat segera mencapai titik kegagalan.

Saat angka eGFR berada di bawah 15, fungsi ginjal hampir mencapai kegagalan lengkap atau total. Apabila kondisi tersebut telah terjadi, diperlukan prosedur seperti cuci darah dan transplantasi ginjal sebagai solusinya.

Kontrol diabetes dan hipertensi

Perlu kita waspada terhadap dua gangguan utama yang turut serta dalam peningkatan risiko seseorang mengidap gagal ginjal kronis. Kedua kondisi ini ialah tekanan darah tinggi atau hipertensi dan diabetes melitus atau kencing manis. Sangat penting bagi orang sehat untuk menjaga fungsi ginjalknya, lebih-lebih lagi jika mereka memiliki riwayat hipertensi ataupun diabetes.

Cegah diabetes dan cegah tekanan darah tinggi artinya mencegah kerusakan ginjal. Mengontrol diabetes dan tekanan darah adalah kunci utama untuk menghindari komplikasi berupa kerusakan ginjal.

Bagi penderita diabetes dan hipertensi, penting untuk tetap ingat secara teratur mengkonsumsi obat diabetes dan hipertensi yang telah diresepkan sesuai untuk masing-masing individu.

Obat-obat untuk diabetes dan hipertensi bila digunakan sesuai dengan anjuran dokter justru akan menjaga kesehatan ginjal Anda. Menghentikan obat diabetes dan hipertensi akan berakibat gula darah dan tekanan darah yang tidak terkontrol dan beresiko tinggi pada kondisi ginjal.

Menurut laman web National Kidney Foundation, gula masih dianggap normal jika level-nya dalam darah tak melampaui 180 mg/dL. Akan tetapi apabila kadar glukosa tersebut melebihi angka itu, ginjal pun akan membuang sisa-sida gula ke urine. Makin tinggi kandungan gula pada aliran darah, makin besar jumlah gula yang dibuang oleh organ ginjal. Inilah alasannya kenapa orang dengan penyakit diabetes seringkali disebut memiliki kondisi medis lain yaitu buang air kecil berwarna manis akibat adanya penumpukan zat gula dalam urinenya. Keadaan ini juga dikenal sebagai istilah kedokteran yakni glikosuria.

Bagi penderita diabetes yang kadar gulanya sering tidak terkontrol, penting untuk membawa strip tes gula darah (glukometer) selama mudik untuk memantau kadar gula harian. Tentunya tes ini tidak perlu ekstrim dilakukan setiap hari. Bila Anda makan minum banyak, ada baiknya setelah dua hari Anda mengeceknya. Namun yang terbaik tentunya adalah tetap makan secara sehat dan tidak berlebihan.

Di luar pengecekan kadar glukosa darah, tes protein bernama Hemoglobin A1C (HbA1C) merupakan salah satu tindakan pengujian yang sering dijalankan guna mengidentifikasi sejauh mana kondisi diabetes pada individu tersebut. Kadar gula darah yang lebih tinggi akan menyebabkan peningkatan jumlah gula yang terikat dengan protein ini.

Tingkat HbA1C mencerminkan ratarata kandungan glukosa di dalam darah kita selama tiga bulan terakhir serta menunjukkan sejauh mana kerusakan pada organ ginjal bisa disebabkan oleh kelebihan gula. Untuk individu dengan kondisi non-diabetes, nilai HbA1C idealnya harus dibawah 6%. Makin meningginya angka HbA1C mengindikasikan makin parah potensi gangguan ginjal yang akan timbul.

Jika Anda sudah mengecek tingkat HbA1c ini sebelum melaksanakan mudik, maka data tersebut sangat berharga dalam mengidentifikasi bagaimana kesehatan kadar gula darah Anda selama tiga bulan belakangan, apakah telah terkendali dengan baik atau belum. Mungkin diperlukan penyesuaian pada kebiasaan makan Anda atau mendiskusikan hal ini dengan dokter sebelum melakukan perjalanan pulang agar dokter bisa memodifikasi pengobatan yang sedang dijalani.

Penting bagi ginjal bahwa tubuh tetap terhidrasi.

Pastikan untuk menjaga hidrasi tubuh dengan meminum air secukupnya saat mudik dan Lebaran. Sebagai aturan praktis yang gampang diingat, konsumsilah setidaknya tujuh hingga delapan gelas air per hari. Meski demikian, asupan air tersebut bisa bervariasi bergantung pada faktor seperti usia Anda, intensitas aktivitas fisik, suhu lingkungan, serta apakah Anda tengah mengandung atau memberi ASI. Merasa haus merupakan sinyal bahwa tubuh sudah mulai membutuhkan lebih banyak cairan. Sementara itu, jika warna urine menjadi makin keuning-kuningannya dan pekat, hal ini menunjukkan adanya dehidrasi.

Air amat esensial bagi sejumlah organ dalam tubuh kita, seperti ginjal. Konsumsi air yang memadai dapat menghindari pembentukan batu pada ginjal. Berdasarkan beberapa studi terkini, disebutkan pula bahwa asupan cairan yang mencukupi turut membantu mencegah penyakit ginjal kronis.

Hubungan antara konsumsi air yang memadai dan penyakit batu ginjal mulanya diketahui pada dekade ’60-an. Saat itu dicatat bahwa anggota tentara yang berdinas di wilayah dengan ketersediaan air yang sedikit memiliki insiden batu ginjal yang lebih tinggi daripada mereka yang ditugaskan ke tempat-tempat dengan sumber air melimpah. Setelah penemuan tersebut, meningkatkan asupan cairan ketika merasakan tanda-tanda awal batu ginjal pun menjadi bagian dari pedoman pengobatan. Selain itu, beberapa studi lain juga menggarisbawahi betapa vitalnya minum air dalam jumlah besar sebagai langkah pencegahan agar batu ginjal tidak kambuh lagi.

Walau demikian, asupan air bagi pasien dengan gagal ginjal kronis serta orang-orang yang menderita edema atau penumpukan cairan di paru-paru disebabkan oleh kondisi jantung harus tetap diperhatikan. Dalam situasi tersebut, para pasien berpotensi merasa sulit bernapas dikarenakan napas menjadi cepat-cepat akibat kelebihan air dan garam yang tidak dapat diproses secara efektif oleh tubuh. Kondisi ini timbul lantaran kedua penyakit tersebut sudah membatalkan kapabilitas tubuh untuk membuang air dengan baik.

Terkadang akibat perjalanannya panjang, kita enggan beranjak dari tempat duduk hanya demi memanfaatkannya untuk keperluan toiletnya, sehingga sering kali tahan pipis cukup lama. Tindakan tersebut bisa menjadi pemicu iritasi di bagian kandung kemih Anda. Oleh sebab itu, penting bagi anda agar bijaksana dalam merencanakan asupan cairan serta frekuensi pembuangannya. Lebih baik tidak terus-menerusan menekan dorongan untuk buang air ketika sedang bepergian ya.

Tetapi bila seseorang mengidap infeksi saluran kemih, di mana salah satu tanda-tandanya adalah rasa ingin berkemih terus-menerus padahal urine yang keluar sangat sedikit, maka diperlukan konsumsi air dalam jumlah besar supaya infeksi itu cepat dibuang lewat urin.

Berpantang makan dengan baik saat pulang kampung dan perayaan lebaran

Seringkali sulit untuk menghindari pola makan tak sehat saat kembali kerumah keluarga besar pada hari raya. Mengendalikan nafsu makan dan pilihan minuman menjadi penting agar ginjal tetap dalam kondisi baik. Tekanan darah serta level gula yang melampaui batas tanpa pengawasan dapat merusak pembuluh darah secara keseluruhan, termasuk glomeruli — yaitu pembuluh darah mikroskopis yang ada di ginjal.

Bila Anda mempunyai diabetes, penting sekali agar kadar gula darah Anda terkontrol. Hal ini karena kadar gula yang tinggi merusak pembuluh darah di ginjal dan sel-sel penyaringnya. Pada akhirnya ginjal yang rusak tidak akan mampu lagi untuk menyaring darah.

Sama halnya, tekanan darah tinggi dan tak terkendali dapat menghancurkan pembuluh darah di organ ginjal.

Meskipun telah minum obat, tetapi jika pola makan tidak terkontrol, efek obat bisa berkurang. Pastikan untuk menjaga diet yang baik selama perjalanan pulang kampung maupun saat Lebaran.

Karena telah diketahui bahwa diabetes serta tekanan darah tinggi bisa menyebabkan dan mengeraskan dampak negatif terhadap fungsi ginjal, maka mengontrol asupan gula, natrium, dan lemak menjadi hal penting untuk mencegah kondisi tersebut.

Jauhi minuman bersoda! Ini disebabkan oleh kandungan gula yang cukup besar dalam soda, termasuk gula alami serta sintetiknya. Juga hindarilah konsumsi jus dengan jumlah berlebihan atau rutin. Karena baik itu jus buah asli ataupun sajian karton memiliki kadar gula yang tinggi. Lebih bijaksana jika kebanyakan memilih untuk minum air biasa saja, sesekali bisa mencoba teh tanpa tambahan gula.

Hindari makan terlalu banyak daging olahan seperti kornet, ham, sosis, dan nugget. Daging-daging beku tersebut biasanya memiliki jumlah garam yang cukup tinggi.

Jangan terlalu banyak menambahkan sambal sebab umumnya sambal lezat memiliki kadar gula, garam, dan perasa yang tinggi. Hindari pula konsumsi berlebihan pada kue kering serta variasi kue dan roti lainnya.

Pastikan untuk menambahkan sayur pada sarapan dan makan malam sebab serat di dalamnya bisa menghindari peningkatan glukosa darah secara drastis. Apabila kamu ingin mencicipi hidangan berkuah santan, batasi konsumsi sajiannya.

Pastikan tetap mengontrol ukuran porsi makannya dengan baik.

Mempertahankan kadar kolesterol dalam batas normal turut berperan dalam menghindari risiko serangan jantung serta stroke bagi mereka yang menderita gagal ginjal kronis sebelum melakukan prosedur hemodialisis.

Istirahat yang cukup dan tidak sembarangan menggunakan obat

Berkumpul dengan keluarga besar ataupun kecil yang sudah lama tidak berjumpa mudah membuat kita lupa waktu dan kurang beristirahat. Jangan tidur terlalu larut. Bila kondisi tubuh terasa tidak baik, segeralah beristirahat dan tidak memaksakan diri untuk berjalan-jalan atau berwisata ke tempat yang jauh atau melakukan perjalanan dengan medan yang berat.

Jika tubuh dalam keadaan sehat dan tak terserang penyakit, maka kita tidak perlu menggunakan obat analgesik.

Penggunaan analgesik dan anti-inflamasi dari kelompok non-steroid dengan dosis besar serta dalam periode lama dapat membahayakan kesehatan ginjal. Jika diberikan pada dosis tinggi selama waktu yang cukup lama, obat-obatan tersebut bisa mengurangi aliran darah menuju ginjal, akibatnya merusak strukturnya. Selain itu, hati-hati pula ketika menggunakan jenis obat ini bagi mereka yang telah memiliki masalah dengan organ ginjal.

Penulis pun akhirnya menyampaikan selamat berlibur dan merayakan Idul Fitri untuk semua orang yang ikut memperingati hari raya tersebut.